Monday, October 16, 2006

Dear...

Dear...
Masih lekang harum daun tembakau yang terbakar lepas di dingin malam. Terhirup menyudut dari sisi paru-paru yang tengah tercabik nikotin hidup.
Pelepah daun sagupun masih terlihat mengering kala kita melipir di pinggir trotoar.Mengeriting tertimnpa debu sang waktu.
Mungkin saat ini kita tengah satu kayuh, satu rumbai dan satu pengangkaran. Dan aku hanya mampu menikmati tiap detik yang melepuh di atas buas sang waktu..tanpa ekpetasi apapun.
Yah...malam tengah mengadahkan dirinya padaku. Lentara jalan membisu lesu tertunduk. Mungkin ia tengah malu untuk menerangi kisah anak manusia yang dengan beringasnya mereguk secawan asmara, yang dengan kebudohanya terus mergeuk hingga tetes terakhir tanpa pernah tahu ia tengah menuai badai hati dirinya sendiri.
Masih sempatkan kita terus menapak persimpangan hati ini? takala kerikil-kerikil bertasbihkan kesombongan dan ke-'aku'-an diri yang dengan ganasnya melucuti satu persatu cahaya diri.
Masih sempatkan kita melewati satu jalan terjal itu lagi.....??? Masih sempatkah??!!!



When the nite fall..mengiringi kepak burung besi yang membawamu pergi menuju semarang...
18:30-161006-

Monday, October 02, 2006

Sepotong kue

Ada sepotong kue yang sekilas nampak sama dengan sebelas kue lainya. Namun setelah di perhatikan, kue satu ini terdiri dari begitu banyak lapisan kenikmatan luar biasa. Tiap lapisnya mampu mengeyahkan rasa dahaga di sebelas bulan lainya. Sebuah kue yang di siapkan oleh Sang Raja yang bahan-bahanya terdiri dari jutaan kepak sayap malaikat yang mentasbihkan namaNYA. Berasal dari tetesan airmata seorang ibu yang bersujud merintihkan nama sang Raja di kala penghujung malam. Serta adonanya bertabur serat emas yang terkumpul dari rasa damai yang di ambil dari balik pintu surga.
Ya...sepotong kue yang di siapkan untuk seluruh umat manusia. Dan barang siapa yang mampu memakan habis kue itu tanpa sisa, niscaya Sang Raja kan memberikan jubah emas bertabur intan yang kibaran kenikmatanya terus di bawa ke sebelas bulan lainya..terus..dan terussss......hingga pada satu hari di mana ia akan berjumpa secara langsung oleh Sang Raja.
Sepotong kue itu...sepotong kue bernama Ramadhan.

Sayap untuk bidadari kecil..

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman dari negeri seberang mengirimkan email di sertai dengan beberapa gambar mengenai bidadari kecilnya yang tengah berulang tahun.
"Dirayakan nanti setelah Ayah menerima gaji bulan ini yah" ujar temanku kepada bidadari kecilnya. Dan sang anak tetap nampak antusias dan penuh kegembiraan mendapati hari ulang tahunya hanya di hadiri oleh ayah dan ibunya plus sebuah kue ulang tahun sederhana.
Jelas teraut sinar kebahagiaanya yang begitu benderang, mengalahkan nyala kerlip bintang malam yang menaungi atap rumah kediamanya.
Sang ayah berguman melantunkan sebait mantra untuk sang anak. Meski dalam lelah harinya, ia masih sempat berdoa untuk bidadari kecilnya sesaat sebelum mengantarkan bidadari kecilnya ke dalam peraduan.
Ayah hanya bisa memberikan sepotong sayap kepercayaan untuk dapat kau bawa terbang tinggi guna memetik segelayut mimpi hidupmu.
Ayah hanya bisa mempersenjataimu dengan sebilah kejujuran untuk mudah bagimu menyisiri terjal hidupmu.
Dan ayah hanya membawakanmu sebuah lentera pengetahuan dan agama untuk dapat kau gunakan dalam gelap malamu.
Serta ayah hanya bisa menghantarkan dirimu dengan payung kasih sayang agar kelak bisa kau gunakan untuk melindungi dirimu dari terik panas sinar kehidupan.
Sang anak hanya membalas dengan sebuah senyum indah sambil berujar.
"Tidak ada yang lebih indah buat aku mendapati ayah dan bunda. Dan tidak ada hal yang luar biasa menakjubkan mendapati kita berkumpul dalam satu rumbai kasih sayang."
Dan dalam lelap mimpi indahnya, sang anak bermimpi mengepakan sayap yang di bentuk akan berjuta juta rasa kasih sayang terus melesat magis memetik satu mimpinya.
Menjelang Tarawih,
021006
Salam rindu buat Key...

Tuesday, August 22, 2006

Tentang kemarin...

Hingga Kemarinpun ia masih belum mengerti...
Tentang jalan panjang yang berliku
Tentang panas terik yang menyengat
dan tentang hitam kabut malam.

Satu jam lalupun ia masih belum mengerti
Tentang sendu tangis hati
Tentang peluh dingin ini
dan tentang ringkuk rintih doa

.....dan baru saja ia berpaling di hadapanku
Tepat sepertiga detik yang lalu
dengan kegundahan diri,
Meski berulang kali aku berucap :
Mencintaiku semudah tarikan nafas dirimu saat menghirup deru angin senja.



..ketika tsunami hati bergejolak di tengah malam...Augst 2006

Friday, July 21, 2006

Nyanyian sunyi

Aku murka..
aku gusar..
aku menangis...
merenggut dan menghempas apa yang di rasa.

Mencabik habis apa yang di punya.
Meluapkan sejumput penat mendesak.
Aku hilang....menguap....terlepas....sekarat.

Kata itu....
menyublim ringan...tak kentara.
Dalam sekat malam, meregang untuk menyumpal sejumlah kata dalam benak.
Sebuah nyanyian sunyi. Melagu lirih menyayat. Mengucap mantra bahwa...

....Aku mencintai-mu

Thursday, July 20, 2006

Arti mencintai....

Pada suatu malam, seorang anak bertanya pada ibunya apakah arti mencintai itu. Dan sang ibu hanya tersenyum sambil berucap
"Esok hari bangunlah pagi-pagi sekali, dan kamu akan mendapati jawabanya di sana".
Dan keseokan harinya, pagi-pagi benar sang anak sudah terbangun dan menyaksikan sang ibu menyiapkan segala keprluanya sebelum ia berangkat ke sekolah. Dan ia menunggu jawaban apakah yang akan di berikan oleh sang ibu atas pertanyaanya semlam. Namun sang ibu hanya tersenyum sambil mengantarkan menuju ke gerbang sekolah.
Sesampainya di sekolah, sang anak kembali bertanya kepada guru di sekolahnya tentang arti mencintai itu. Dan guru di sekolah hanya berkata
"Saat tiba waktu makan siang nanti cobalah jangan kau buka bekalmu, dan lihatlah apa yang terjadi nanti".
Dan ketika waktu makan siang pun tiba siang, ia sama sekali tidak membuka bekal yang ia bawa. Lama ia menunggu apa yang akan terjadi, hingga tiba-tiba ada seorang anak sebayanya dari kelas lain yang membagi roti miliknya untuk di makan bersama. Sesaat setelah bertemu dengan gurunya, sang anak langsung menceritakan apa yang baru saja di alaminya. Dan kembali ia menanyakan apa hubungan dengan mencintai dengan apa yang baru saja terjadi. Dan guru itupun hanya tersenyum sambil terus meneruskan sisa pelajaran yang tersisa hari ini.
Lelah ia mencari jawaban dari apa arti mencintai, ia duduk teramanggu sambil bertanya dalam hati kepada sang mentari yang beranjak menuju ufuk barat. Dan sang mentaripun hanya berkata
"Aku tak pernah meminta kembali atas tiap cahaya yang ku lepaskan, bahkan aku justru memantulkan cahayaku pada rembulan takala malam datang, agar kalian tetap terus berada dalam benderang cahayaku." uajrnya tersenyum sambil menggelincirkan dirinya ketepian malam.
Lama sang anak terus mepertanyakan tentang arti mencinta, hingga pada suatu waktu ia baru menyadari bahwa mencintai itu adalah memberi dan menjaga tanpa perlu meminta seidkitpun....

Saturday, June 03, 2006

My Blue Ocean...

Entah mengapa, dan daya tarik apa yang membuatku mampu terpaku hanya dengan melihat matahari menyelusup terbenam di ujung pantai.
Ada semacam rasa magis menikmati kicau burung camar yang tengah pulang ke sarang, menikmati buih-buih ombak putih di ujung pasir dan menatap kemilau emas langit di ufuk barat...Ya, aku dan laut, dua hal yang tak pernah terpisahkan dengan atau tanpa kekasih sekalipun di sampingkuku.
Ada lembut kemilau sinar bulan menerpa kelam gelap air laut. Dan angin malam menerpa dengan sinisnya. Di ujung kakai langit nampak kilau gemintang menghiasi keindahan laut ini..laut ku.
Kini malam menyelimuti, dengan percikan terbentuk oleh kepakan ikan malam. Bersama nyanyian sendu sampan nelayan yang mulai mengayuh ke tengah laut.
Sambil tersenyum, kusisiri sepanjang garisa pantai, jejakku yang tertinggal lambat laun tersapu oleh buih-buih ombak. Meninggalakan semua rasa tanpa tersisa...yang ada hanya aku dan laut biruku.

Suatu hari akan kau mengerti aku..

Suatu hari akan kau mengerti tentang aku.
Tentang aku yang begitu menikmati lembayung langit senja, tentang aku yang mampu berdiam diri dengan hanya menatap gugusan bintang, dan tentang aku yang terbenam dalam tiap rintik hujan.

Suatu saat akan kau mengerti tentang aku.
Dari tiap ucap kata rindu yang terbias, dari tiap jejak sentuhan lembut jemariku dan dari tiap pikiran yang terjerambab di dalam asamu.

Suatu hari akan kau mengerti tentang aku, dengan atau tidak adanya keberadaanku bersama lembut tarian hujan, kerlip genit gemintang dan torehan lembayung senja sore ini.


3 juni 2006, dalam gelisah tengah malam menanti sms mu...

Friday, June 02, 2006

Tentang Waktu...

"Maaf, aku ingin mencium-mu pagi hari ini"
Setelah sesak dengan berdiam dan bertanya-tanya dalam hati, dengan penuh gelak tawa akhirnya muncrat juga pertanyaan yang sudah sedari tadi berada di ujung bibir.

"WAKTU" , Jawabnya :
.... Yang akhirnya kita hanya duduk berhadapan
tergelak kencang.....
...menikmati moment
....dan sebuah cerita tentang kebersamaan...
Waktu memang sebegitu pentingnya dan entah mengapa ia akan selalu menjadi akhir sebuah tanya.
"Biar waktu yang menjawab' , bisik mu lembut tepat di telinga kiriku.
Dan mungkin aku akan kembali mencium keningmu esok pagi
Mendung....lembab...dan tanpa terasa menetes....2 juni 2006

Thursday, June 01, 2006

Gak ada judul..bingung...

Ketika takut megguyur dan sesaat meninggalkan asa terputus di kerongkongan. Entah apakah genggam perasaanku erat memeluk,,,yang aku tahu aku hanya mampu memejamkan mata dan menikmati tiap detik moment yang terjadi, bahkan celah diantaranya.
Dan jika semua ini adalah sebuah pengalaman...aku akan bersyukur atas semua nikmat yang pernah ku kecap.


Kamu tidak pernah tidur..

Untuk semua yang telah Kau beri...
Untuk apapun yang tengah Kau titipkan padaku...
Dan untuk semua keindahan yang Kau simpan di ragaku...
Atas nama semua ketakutanku, semua kelemahanku dan semua kerapuhan jiwa..hingga aku tak lagi mampu berkata selain tersenyum damai...dan satu yang aku yakini...Kamu tidak pernah tidur...aku percaya itu...Kamu tidak pernah tidur.



Dalam kesendirian berteman ketakutan jiwa .....

Wednesday, May 31, 2006

Tengok langit malam...

Tengok langit malam ini teman...lihatlah bulan hanya tinggal seperempat saja lengkunganya dan membuat temaram biasnya menerpa siluet akan bayang dirimu.

Tengok langit malam ini teman...sapulah kerinduan hati cukup dengan melongok gugusan gemintang.

Tengoklah langit malam ini teman.....dan....hmmmm satu hal, jangan lupa makan malam :-)


30 may 2006 Di halte LIA, lg nunggu bis ac 48 yang masih tetep penuh sesak oleh penumpang

Cinta Gak pernah salah

Cinta gak pernah salah...tinggal ketulusan jiwa yang mampu menampung rasa itu.
Cinta gak pernah salah.......hanya kemurnian hati yang mampu mengesampingkan ego.
Cinta gak pernah salah..........bukan hanya untuk sekedar memiliki dan menancapkan plang kepemilikan atas dirinya.
Dan cinta gak pernah salah....apapun alasanya itu.


31 may 2006 and Terimakasih sudah mau jujur akan itu :)

The Guest House

The Guest House
This being human is a guest house.
Every morning a new arrival.
A joy, a depression, a meanness, some momentary awareness comes as an unexpected visitor. Welcome and entertain them all! Even if they're a crowd of sorrows, who violently sweep your house empty of its furniture, still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out for some new delight.
The dark thought, the shame, the malice, meet them at the door laughing, and invite them in. Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.
(RUMI)
Hati laksana sebuah rumah, dimana jiwa kita menjabat sebagai tuan rumah itu sendiri. Hanya dengan kearifan, kepekaan dan keterbukaan bersikap yang mampu melayani tiap tamu yang mampir ke dalam rumah itu.
Apakah tamu itu bernama kesedihan, kepahitan, kebahagiaan, maupun kenikmatan, mungkin cara terbaik adalah bersyukur atas itu semua. Karena tiap tamu yang datang itu di datangkan dengan maksud dan tuntunan hidup terbaik dari Sang Maha Tahu.
Ka di serpong, Pintu rumah senja ini selalu terbuka, untuk sekedar menikmati secangkir teh jiwa dan sepotong kecil roti kehidupan.

Sunday, May 28, 2006

Punch Drunk Love

* Aku capek...dan aku gak tega saja sama dia
+ ....(diammm)
* Kita sudahi saja yah.
+ Jika itu yang terbaik, why not..
* Yah, mungkin memang sudah saatnya aku melepaskan kamu, dan mengembalikan kepada yang berhak.
+ Tapi kamu baik-baik saja kan??
* Untuk seorang seperti kamu...hmmm it's a simple thing..i can handle my feeling...
+ Aku tetep sayang kamu loohhhh...
* Simpan saja kata itu untuk korban kamu berikutnya. Dan sampaikan kepada dia, dia terlalu bodoh untuk mepertahankan kamu.

^^^

+ Its over...aku dan dia.
- Yakin??? Dia mau ngerti?
+ Tidak juga..tapi dia kok yang minta.
- Dan kamu ingin kita kembali lagi????
+ Yup...kali ini aku janji lebih baik.
- Hmmm.....
+ Loh kok malah hmmmm??? Aku kan sudah mutusin dia, dan milih kamu.
- Gak semudah itu
+ Tapi kannn....
- Gak ada tapi-tapian...kan seperti kamu bilang, one is not enough...so i give you that chance.
+ Tapi aku kan dah mutusin dia, dan itu yang kamu mau kan??Lantas ?? aku??
- Find another person...
+ Aku sayang kamuuuu...
- Telatttttttt..!!
+ Arggghhhhhhhhh.....!!!
- Bye....!!!

The Show Must Go on

Empty spaces - what are we living for Abandoned places - I guess we know the score On and on, does anybody know what we are looking for... Another hero, another mindless crime Behind the curtain, in the pantomime Hold the line, does anybody want to take it anymore The show must go on....


Ku hentikan hujan...ku sibak langit malam...ku hempas berjuta gemuruh...namun ku tak dapat menolak sinar matahari....Karena hidup itu indah...dan aku sudah terlalu puas menangis sepuas-puasnya.




For all my friends who's always beside me, many thanks...

Tuesday, May 23, 2006

Selamat Pagi.....

"Selamat pagi..!!", adalah kalimat yang paling aku takuti beberapa hari ini...sekaligus juga sebagai kalimat yang juga aku tunggu-tunggu.
Sudah beberapa hari ini aku tidak melongok sejenak ke rumah pelangi ku ini. Sudah hampir ribuan jam aku berkubang akan keraguan diri. Namun tidak dengan kali ini. Dengan sedikit keberanian diri, aku kembali menyapa..."Selamat Pagi Rumah Pelangi-ku...'.
"Jangan pernah takut akan sendiri Rud", itu adalah sebuah kalimat yang di ucapkan seorang temanku pada suatu waktu.
"Dia, kamu, kalian berdua tidak terpisahkan..bagaimanapun dan apapun lasanya. Kalian tidak kemana-mana Rud. Tetap berada di tempatnya...yaitu di hati kalian masing-masing", celoteh teman ku itu.
"Ia tetap yang terbaik buat kamu, selamanya. Hanya saja keadaanya yang sudah berubah...hanya saja ia secara phisicly dia sudah tidak lagi berada di samping kamu, itu saja. Dan ini saatnya kamu belajar untuk merelakan sesuatu yang paling berharga...sesuatu yang mungkin tidak akan kamu dapat lagi(tetapi kamu masih tetap merasakan terus hangatnya, bukan begitu?)."
Merelakan...yah...m-e-r-e-l-a-k-a-n. Sebuah konsonan kata yang begitu mudah meluncur lepas ketika kita hanya berucap, namun begitu sulit ketika hati mulai meresap. Butuh keberanian tingkat tinggi untuk mengakui "Aku Ikhlas.". Dan melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi, namun mengingat hal terindah atas dirinya sebagai sebuah moment yang tak akan lekang di hati kita. Dan aku tau ini tak mudah pada awalnya. Bahwa seolah kita tidak kuasa melepas semua waktu yang terjalin itu begitu saja, seolah kita adalah orang terbaik yang seharusnya memilikinya. Seolah kita masih punya kuasa untuk menghentikan laju sang waktu...
Namun...semua sia-sia...buat apa berteriak-teriak minta di penuhi, padahal kita sudah terisi penuh. Buat apa meminta-minta di lengkapi padahal kita sudah lengkap. Dan ternyata kita belum terbangun pada saat itu. Bahwasanya kekosongan, ketidak utuhan adalah jarak antara saya dengan keinginan jiwa saya.
"Kamu akan siap Rud, begitu kamu meletakan ego kamu, dan mengesampingkan bahwa kamulah korban akan keadaan ini. Dan mulai berfikir, semua hal ini adalah sebuah proses menuju sebuah arah..bahwasanya setiap orang harus menjalani hidupnya sendiri"
"Tinggalkan semua atribut yang bernamakan 'Takut kehilangan'. Karena tidak ada yang hilang atau kehilangan, semuanya tetap berada di posisisinya masing-masing. Dan kamu sadar itu..kamu hanya takut mengakui hal tersebut."
Dan hari ini, adalah pertama kali saya mencicipi ketidak warasan saya...menikmati bahwa saya tetap utuh meski saya berjalan sendiri. Bahwa saya lengkap tanpa harus terikat.
Bahwa saya kali ini siap berucap...'Selamat pagi...Selamat pagi Hidup!"
Cilandak, 22 mey 2006 tengah menanti senja...

Thursday, May 04, 2006

Langkahku....

Lukisan hatimu masih tetap tersimpan di dalam rumah kalbuku, sama halnya dengan guratan pena cinta itu, masih berada di kotak relung yang sama.
Sebelum fajar merekah, kuberanikan diri untuk kembali membuka tiap gores kanvas cinta dan garis pena hatimu, dan apa yang kutakutkan sebelumnya tidaklah terbukti.
Warna-warna pelangi hati masih tetap seperti dulu, tak meluruh sedikitpun. Dan garis-garis pahatan rasa-mu masih terbentang kokoh.
Kiranya, ini saatnya aku kembali berdiri dengan sebuah jawaban di lenganku dan tujuan di pergelangan kaki ku, untuk aku mampu berjalan melangkah.
Meski sejuta ragu terus menghinggap benakku. Dan Aku tahu,ini tak akan mudah buat ku. Karena rasa itu masih terus manyalakan percik-percik udara segar dan terus mengalirkan gemericik aliran rasa.
Dan aku tau, pilihanku ini akan menusuk tepat kedalam denyut nadimu, perih dan membuat dirimu seolah ingin balik menghujam seribu bilah pisau ke arahku. Aku mengerti itu...dan aku tak kuasa untuk menoleh kembali...Bantu aku untuk menggapai secercah kilau cahaya kunang-kunang malam..
Aku memilih untuk terus berjalan, dan memilih untuk terus menyimpan lukisan hati dan goresan pena cintamu..disini...di kotak yang paling dalam dan aman, dimana tak seorangpun mampu menyentuhnya selain aku...dan hangatnya masih terus terasa...disini, tepat di relung sukmaku.
Cilandak, 040506 di ujung ufuk fajar...
Untukmu, yang selalu terus berada dalam tiap kecil langkahku...untukmu, dan kamu tahu itu adalah kamu.
Maafkan aku....doa, restu ku selalu kulayangkan untukmu.

Bulan Sipit...

Bulan semalam kemarin terlihat menyipit..
Mengerenyitkan dahinya...memicingkan pupil matanya.
Mencari pembenaran diri, meski ia tahu, sikapnya justru membuat mentari pagi melemahkan suryanya.

Bulan sore ini masih menyipit.
Mencari sebuah jawab akan ketidak adilan sikapnya, yang membuat malam semakin muram, melapukan setangkup harap.
Namun tetap ia kembali mengerenyitkan dahinya, memicingkan pupil matanya, untuk sebuah jawab yang ia cari, walaupun ia harus membuat semesta tertumbuk murka sekalipun.

Karena ia hanya ingin menjadi lebih baik.....


Cilandak, 040506 terbangun di tengah kekosongan malam.
*Maaf, jika keputusanku sangat2 menyakitimu.....

Monday, May 01, 2006

Aaaakkuuu...

Aaaaakkuuu......













terkatup lemah, melapuk...menyubilm...ringan tanpa beban...







Aku.....
hanya ingin di dekatMU

Thursday, April 13, 2006

Tangan itu....

Aku kangen tangan itu, sepasang tangan berkeriput luruh di sekujurnya.
Tangan yang selalu memegang kokoh ketika aku lunglai berdiri; tangan yang selalu terbuka ketika aku meminta damai peluknya; tangan yang selalu berada di atas ketika aku butuh pertolongan jiwa.

Aku kangen tangan tua itu...
sepasang tangan yang dengan tangan kirinya mencambuk jiwa ketika aku terpuruk sambil tangan kanannya menarik kuat saat aku mulai tenggelam dalam gelap malam; sepasang tangan yang dengan tangan kanannya menyeka air mata hati sedangkan tangan kirinya mendorong diri agar terus dapat berlari memburu pelangi; sepasang tangan yang dengan ikhlas melambai melepas laksana bujur panah ketika aku harus berjalan mencari dunia luar dan dengan hangat melambai menuntun ketika aku tertatih mencari jalan pulang.

Aku....aku hanya ingin mencium sepasang tangan itu, karenanya aku mampu berdiri tegak menghalang udara malam; karenanya aku belajar menapaki tajam kerikil dunia; karenanya aku mampu menjadi diriku dan berteriak lantang menyongsong dunia.

Meski kedua persendianmu di gerogoti pelapukan masa, meskipun keropos tulang membuatmu tak lagi mengenggam dengan erat, dan meskipun usia membuatmu mulai memijit-mijit buku-buku jemarimu, namun di luar keterbatasan itu, aku masih terus merasakan aliran deras butir-butir doa menerjang legam takala sepasang tangan itu membuka meminta cinta sang Maha Kuasa untuk anak-anaknya....

Aku kangen belaian tanganmu 'bu......


I miss u so much....aku akan pulang esok lusa

Monday, April 10, 2006

Pahatan Rindu

Ku pahat bayang dirimu dengan sekatup lamunan diri.
Senyumu ku ambil dari rekah kemuning pagi;
Matamu ku petik dari kerling rembulan di bulan juni;
Gugusan gemintang kurangkai menjadi indah lesung pipimu;
Dan aku pintal tujuh pelangi mewarna guna menyulap hidungmu;
Terakhir, Kilau serbuk bintang jatuh akan membedaki pahatan rindu ini.....

Slipi, beyond the limit that how much i miss u....

Rumah.....

Pada sebuah senja, di balik sebuah bukit terjal, ada sebuah rumah yang begitu menarik perhatianku.
Sebuah rumah mungil dengan pagar putih yang di rajut dari rasa sayang tiap penghuninya, dengan hamparan rerumputan hijau yang di tanam dengan benih cinta yang begitu melekat.
Rumah dimana tepat di depanya terdapat sebuah daun pintu yang selalu terbuka dan memeluk hangat ketika salah satu penghuninya merasa lelah, dan di tiap sisinya memiliki daun jendela yang tanpa perlu di minta akan selalu mendengar tiap keluh kesah hidup.
Tepat di atasnya ada sebuah anyaman rumbai tanggung jawab yang melindunginya dari sengatan tajam sinar mentari.
Aku tersenyum miris, seolah tak percaya bahwasanya masih ada sebuah rumah yang menyimpan hati tiap insan di dalamnya dengan begitu lekat, sebuah rumah yang tidak memperdagangkan cinta dan sayangnya dengan meng-atas-namakan pada karier ataupun materi. Sebuah rumah yang tidak berlomba lomba memberi hanya untuk menancapkan kuku kesombonganya. Sebuah rumah yang tidak pernah meminta akan sebuah harga....Dan itu terdapat pada sebuah rumah mungil di balik bukit terjal pada sebuah senja....pada sebuah senja...

Friday, April 07, 2006

Pinjami aku....

Pinjami aku matamu, agar aku bisa melihat damai itu lagi....

Pinjami aku pikiranmu, agar aku dapat merasuk kedalam regang jiwamu...
Pinjami aku nalarmu, agar aku tak terperosok gelap malam ...
Pinjami aku mimpimu, agar aku mampu merajut gemintang khayalmu..

...dan pinjami aku kunci hatimu, agar aku sanggup membuka kembali relung cinta ini

Wednesday, March 29, 2006

Jakarta , Kini.....

Wajah-wajah lelah yang tertempa beban, mengatup perlahan menyusuri jalan pulang. Ada sejumput benih mimpi yang mungkin hanya berani di khayalkan pada saat menyusuri aspal panas menuju tempat yang biasa di sebut sebagai rumah.
Wajah-wajah tanpa ekspresi, seolah haus akan cahaya hidup menabur dalam tiap jengkal jalan ini. Beribu-ribu wajah, bahkan mungkin berjuta-juta wajah yang memang sudah terlalu lelah memburu hidup...
'Terkutuklah Jakarta, yang menyihir warganya untuk saling menghisap darahnya masing-masing'

Saturday, March 18, 2006

Lets Have a toast

Mungkin secara tidak sadar kita seringkali mempertanyakan banyak hal tentang apa yang tengah, sedang dan akan terjadi pada hidup dan semesta ini, dan semua itu akan menggiring kita pada sebuah pertanyaan dasar, yaitu, 'Untuk apa kita ada??".
Namun esensi yang lebih mendasar adalah, bukan-nya bagaimana kita dengan sukses mengetahui jawaban atas pertanyaan itu sendiri, namun kembali kepada seberapa banyak kita menguraikan setiap pertanyan-pertanyan yang mengisi di sela-sela ruang sel otak dan nurani kita. Umpama seorang anak yang tengah berburu akan berjuta pertanyaan ketika ia melihat dunia luar.
Kenapa di harus ada siang dan malam??
Mengapa matahari bergulir dari satu sisi ke sisi yang lain sebelum malam melahapnya??
Kenapa kita harus menangis ketika kita merasa sedih?
Apakah arti kata 'meninggal' itu??
Dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kita sendiri masih perlu untuk mengungkapnya. Dan semesta memilih kita untuk mengalaminya...memilih kita untuk menjalaninya, karena hidup adalah 'pengalaman'. Dan dari pengalaman itu berujung akan sebuah kesadaran dan pemahaman akan hidup. Pemahaman akan sebuah pertanyaan besar yang menjadikan kita semakin menikmati tiap detik yang bergulir dalam hidup ini...dengan sebuah pemahaman bahwa kita ada karena sebuah maksud, yang Sang Maha Kudus sekalipun enggan menjabarkanya melalui seketip mimpi maupun khayalan.
Penjelajahan ke dalam ruang yang berawalan 'Apa, mengapa dan bagaimana" ke dalam sebuah akhir yang berujung pada maksud dan alasan yang bernama 'Proses'. Karena sedekat apapun kita dengan jawaban yang kita cari, tidaklah lebih penting dari sebuah proses akan pengalaman dan mengalami.
Dimana, hanya dengan lewat proses tersebut kita mampu memahami sepenggal hidup dengan tertawa terbahak-bahak menikmati kebodohan dan ketololan yang pernah kita perbuat, bahkan tersenyum malu akan umpatan-umpatan dan maki-makian yang sempat kita layangkan kepada Sang Maha Humoris ketika kita menemui jalan buntu.
Nmaun semua itu kembali pada sebuah proses...pembelajaran diri.
Cheers and have a toast
Together we make the most
of Our precious time laughing at each other's mistakes
we value honesty and never to be fake
So...lets have a toast..

Friday, March 17, 2006

Jalan tersesat...

Jalan tersesat adalah sebuah ruang di mana kita tengah berhadapan dengan segala realita tanpa sempat membuka ruang pembenaran diri karena sel-sel otak dan jalur lembut nurani sudah tak bisa lagi saling membodohi.

Thursday, March 16, 2006

'...Uhuukkkk...'

Menggelitik..kering...dan gatal rasanya, ketika kita berhadapan dalam menarik otot-otot dada dan mengeluarkan melalui tenggorokan hingga menumpahakanya dengan bantuan bunyi yang mengelegar..'Uhhukk..!!"
Ya, batuk...penyakit musiman, yang biasa menjangkit ketika musim penghujan datang, musim kemarau tiba, bahkan ketika musim rambutan yang getah buahnya seringkali membuat kita musti ter-uhuk-uhuk.
Kali ini saya yang tengah di kunjungi oleh tamu batuk ini. Dari resep tradisional berupa tumbukan jahe, perahan sari jeruk nipis plus kecap manis hingga ke pil-pil obat batuk yang banyak di jual umum. Namun tetap saja, rasa gatal yang menggelitik tetap terasa.
Akhirnya saya pasrah, mungkin ini adalah salah satu cara mengeluarkan sekret, cairan ataupun serat-serat lengket di dalam paru-paru terlempar keluar seiring dengan batuk. Deangan dekapan jaket atau sweater penghangat dada, vitamin c sebagai doping harian serta menjauhi yang namanya 'ice' menjadi rutinitas hari-hariku melalui batuk ini.
Hmmm mungkin malam nanti saya akan mencoba menikmati semangkuk soup ayam, secangkir lemon tea hangat di temani dengan tarian gerimis dan.... yang terpenting adalah saya masih tetap berada dalam balutan hangat sayang mu yang tetap melekat melewati tiap jengkal hari...meski tanpa batukpun.
...'Uhhhuukkkk !!"

Wednesday, March 01, 2006

Hujan di pagi hari

Pagi ini hujan.....mendadak biru langit berubah kelabu sendu...menangis, mencuci bersih meluruhkan lara yang sempat tgertinggal di dada.
Pagi ini hujan....kamu tau itu....!

Wednesday, February 01, 2006

Seandainya..

Seandainya ada sebuah cinta yang mampu menjuntai menghubungkan tiap kelopaknya...

Monday, January 23, 2006

Miracle

You can't create your own miracle..but you have a choice to make it your own miracle....

And now...i learn to choose about my own miracle

Wednesday, January 18, 2006

Hari ini....

Hari ini masih sama dengan hari-hari kemarin. Aku masih suka dengan gemerintik air hujan, saemburat jingga di kala senja dan aku masih suka mengadahkan kepalaku ke langit biru takala aku sedang sedih.
Namun ada satu hal yang berbeda hari ini....aku tak bisa lagi menangis dan berteriak lantang agar dapat di dengar olehmu. Karena hanya dengan pintalan do'a, rajutan harap serta pintalan asa yang akan kutiup perlahan agar angin senja menghantarkan tepat ke pintu hatimu.
Mungkin ini adalah terakhir aku berbisik kepadamu, mungkin ini adalah kali aku menyentuhmu....namun demikian hingga detik terakhir kepergianmu, kau masih saja mengajarkanku begitu banyak hal. Satu di antaranya yaitu kamu mengajarkan aku untuk mengerti bahwa cinta dan sayang tidak memiliki tali untuk mengikat dan mengekangnya. ..dan aku mengerti sekarang.
Masih lekang di ingatanku, ritual yang kita lakukan tiap kali kita bertemu; mulai dari melihat temaram kemilau senja; menyisir gemerlap malam(sambil menyantap bakwan malang) dan di akhiri dengan membisikan sebait kisah di beranda rumah sebelum aku menghantarkanmu ke peraduan(masih ingatkah saat kamu menunjuk sebuah bintang yang paling terang pijarnya, dan kamu mendaulatnya sebagai sinar bintangmu, sedangkan tepat di sebelahnya kamu tunjuk nyala sebuah bintang yang berdampingan 'Sebagai pelindung-ku" ujarmu)...dan itu tak akan pernah terhapus dari relung ingatanku.
Kupikir aku akan jauh lebih hancur, namun melihat butiran-butiran tanah yang menutupmu, aku sadar bukan kesedihan yang kamu inginkan, namun ke ikhlasan untuk terus tersenyum. Karena kamu yakin, cinta dan sayang tak akan pernah butuh tali untuk mengikatnya. Dan kamu mengajarkan itu...kamu mengajarkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Terimakasih untuk kedatanganmu yang hanya sepenggal jalan ini....
Fur Mon Petit Monde.....aku akan selalau mengadahakan kepalaku ke langit biru setiap kali aku bersedih...karena di sana aku akan menemukan senyum-mu...

Monday, January 16, 2006

Lara muluruh....

Saat hatimu membekaskan luka, tengadahkan kepalamu pada kemuning senja sore. Dan lara mu akan meluruh, terbawa lembut angin sore....

ketakutan akan sesuatu yang mungkin terjadi...

Ketakutan akan sesuatu yang mungkin saja terjadi....

Rajutlah mantra, pintal-lah do'a, sambunglah harapan, gayutlah khayalan, dan gapailah rindu...agar semua membungkus dalam sebuntal bentuk keyakinan.

Aku yakin, saya..kamu..kalian semua musti melewati pintu itu...ketakutan akan terlepasnya jiwa dari dalam raga, dan mungkin itu bisa saja terjadi kapanpun..karena hidup adalah perjalanan untuk kembali pulang.

Aku akan datang esok pagi, menjemput erat rasa bersalahku...

Aku akan datang bersama ketakutan akan sesuatu yang mungkin saja terjadi..



Fur "Mon petit Monde"

Wednesday, January 11, 2006

Aku hidup...

Aku bernafas.....aku menghirup udara pagiku....aku hidup!!

Sunday, January 08, 2006

Memintal hidup kembali...

Langkahku sempat terhenti ketika lembut kabut kelam membawa larut kelam jiwa. Ketika kepercayaan yang terpijak luruh menggelincir. Takala aku bergantung pada sebuah dahan kerapuhan.
Dan kini, aku coba menikmati langit biruku, menatap luruh kemuning senjaku tanpa harus memiliki atau di miliki. Mulai memintal hidup dengan sedemikian sederhana, mencari satu satu jawaban akan hidup yang selama ini membuatku sempat merasa lelah....dan tepat, aku masih mampu tersenyum sambil menatap indah ke langit senjaku...dan aku masih terus tersenyum.
Terimaksih buat Sang Maha Humoris yang terus meminjamkan benang-benang hidup yang penuh warna-warni untuk terus ku pintal menjadi sbeuah rajutan yang bernama... "HIDUP".
Kepada semua 'Teman' yang seolah pernah mampir untuk mencoba menatap langit senja bersamaku...terima kasih....!!!

Friday, January 06, 2006

Pijar bintang....

Aku hanya ingin meletakan sebuah bintang yang pijarnya kupetik dari ujung kaki langit agar menemani gelap pejam matamu.....

Jemput aku..

Jemput aku dalam kepastian untuk memiliku....seutuhnya...!!!

Thursday, January 05, 2006

Skenario...

Aku tahu aku tengah memilih jalan yang seharusnya tidak aku lewati, dan aku tahu aku punya pilihan akan itu. Namun aku tetap memilih untuk melewatinya.
Suatu kali aku pernah berkata padamu, 'Ketika aku sangat mencintaimu, aku seperti seorang anak kecil yang tengah menggengam erat sebongkah kue di dalam telapaknya, dan begitu eratnya karena aku tak mau satu orangpun mengambilnya, namun apa yang ku dapat......aku menghancurkan kue itu di telapak tanganku'. Dan itu terus terjadi.
Namun kau hanya menjawab 'Turunkan ekspetasi kamu akan keinginan memilikiku"
Bagaimana mungkin menurunkan rasa yang dengan susah payah ku bangun dengan dasar kasih yang besar??
Bagaimana mungkin sebuah rumah indah yang akan terus aku pugar halamnya harus di hentikan dan di rubuhkan???
Bukan itu.....
Malam itu, entah dari mana keberanian itu datang, apakah mungkin dari rasa lelahku atau titik kulminasi yang begitu tinggi hingga sudah tak tertahan di bendung untuk memiliki mu secara utuh, kata itu terucap..meluncur bagai muntahan bola saju.
* Aku hanya tidak ingin memandang awan biru dengan sesorang yang tidak tau kapan ia harus menepi.
* Aku tidak ingin menikmati rasa sepiku dengan orang yang terus berlari.
* Dan aku hanya tidak ingin menjemput pagiku dengan sesorang yang tidak bisa memberikan keyakinan utuh.
Mungkin ini saatnya, aku harus mengubah skenario indah ini. Ada bagian dialog yang seharusnya tidak terucap, ada beberapa setting yang tidak cocok untuk beberapa adegan, dan ada pemain-pemain yang seharusnya tidak di ikut sertakan.
Aku merubah skenario ini...karena akulah aktor sekaligus editor naskah atas peran hidupku. Dan aku tau sampai di mana sebuah cerita musti di gubah, musti di hilangkan atau musti di tutup sekalipun. Karena aku hanya ingin cerita ini terus berjalan terus meski aku harus kehilangan peran utama sebagai pendampingku.
Dalam suatu kesempatan kamu berkata "Berjuanglah atas nama cinta, berjuanglah demi kita berdua".
Aku hanya bisa terdiam kelu. Bukankah aku sudah terlalu lelah untuk terus berjuang namun tujuan yang aku cari terus bergerak maju meninggalkanku....
"Aku akan menunggumu...."jawabmu baru-baru ini.
Dimanakah dirimu ketika aku menayakan hal yang sama dahulu.....
Aku bukanya tidak mau berjuang, aku sudah cukup...aku sudah cukup untuk terlalu kuat dan sabar....aku sudah cukup untuk terlalu takut....aku sudah cukup untuk dirimu...dan aku tidak akan pernah bisa untuk kembali
Kini, aku merasa bahwa kita tetap berada dalam satu ayunan meski di dalam tapak langkah yang berbeda. Kita masih tetap beralaskan tanah yang sama meski harus berpayung awan yang berbeda pula. Dan kita masih dalam ikatan yang lebih dari kasih, sayang dan cinta, jauh dari segala macam stempel dan label yang membuat kita saling menancapkan hak kepemilikan dan mencakar-cakar penuh luka. Kita lebih dari itu....dan kamu tau itu....
Kamu harus mengerti, bahwa kini aku tengah berjalan mencari awan biruku..mencari langit snejaku dan menemui sinar pagiku...sendiri tanpa harus ada dirimu di sampingku.
Dan semoga kamu juga mendapati langit birumu.....

Wednesday, January 04, 2006

Hari ini....

Hari ini..sama dengan hari-hari sebelumnya.
Langit masih tetap berpayung awan kelabu, menyibak sinar kemuning senjaku. Seolah semesta tau apa yang sedang bergemuruh lebur di dalam jiwaku.
Dan hari ini masih juga sama...bola mata ini masih menyiratkan kerapuhan... gestur tubuh ini masih menaburkan aroma keraguan.
Tapi aku percaya, suatu hari nanti, aku mampu merengkuh kembali indah sinar pagimu...menyingkap kelabu awan hitam di ujung senjaku.

Ajari aku

Ajari aku berpijak pada basah rumput pagi....aku lupa bagaimana menikmati langit pagimu.

Monday, January 02, 2006

Mengakhiri dengan senyuman...

Ku akhiri cerita ini dengan manis, sebelum adanya dendam, luka atau saling menyakiti satu sama lainya. Dan yup...butuh keberanian...butuh kekerasan hati untuk mengakhirinya.

Dan mungkin ada ganjalan hati, ada banyak pertanyaan apakah ini benar atau tidak. Namun terlepas dari itu, salah atau benar..i'll take the risk. Dan ketakutan rasa sepi dan sedih yang segera mendera...rasa akan kehilangan.
Aku tau...dan aku merasakan...apa arti sebuah kehilangan. Dan ini tidak-lah mudah....namun aku harus mengakhirinya, di saat semua masih tertata rapih..di saat sebelum chaos menghantam luka ini. Dan aku aku di mana aku harus mulai menghentikan langkahku...mulai meniti kembali ke setapak kecil langkah-ku sendiri...tanpa dirinya.
Aku terluka (mungkin juga ia merasakan hal yang sama), namun bukan tidak mungkin untuk meperbaikinya, namun terfokus pada apa yang tengah kita rajut...apa yang sedang kita pintal...apakah harus menunggu hingga pintalan itu menjadi kusut?? apakah harus menunggu rajutan itu salah pada tempatnya dan hanya nampak semburat-murat rasa amarah??? Bukannn...bukannn itu...karena aku tahu, hal ini tak bisa di pertahankan lagi....karena aku tak mau melihat kekusutan pintalan itu terjadi. Dan memang aku egois...aku memang penakut...namun mohon, aku tak bisa berpijak pada dasar yang sudah tidak aku percyai lagi...menjejakan kaki pada tanah yang akan membuatku limbung dan terjatuh ke dalam lobang-lobang yang berisikan remah-remah kehancuran diri...maafkan ke egoisan-ku.
Mungkin kini saatnya untuk menepi sesaat...beristirahat sejenak...menikmati keindahan hidup yang dulu sempat tak terhiraukan....sebelum kembali melangkah dengan penuh kedamaian.
Biarkan aku mengakhiri ini dengan senyuman...
Malam tahun baru 2006

Baca tulisan cinta berikutnya :



Widget by Hoctro
ditambahkan oleh koeaing!

Sapa Cinta


View My Stats

Gulungan film Favorit Rudy

Sabar lagi loading...
Sabar lagi loading...

Tak temukan cinta disini ? Kenapa tidak mencoba mesin cinta yang ini :

Google