Wednesday, March 10, 2010

Is he The one???

"Gilaaakkkk, gue pikir lo jadian sama Dandy?",
teriak gue ke Ke' yang barusan cerita dia akan ngedate dengan orang lain yang baru gue kenal juga.

"Trus Albert di kemanain?"
Ke' malah senyum-senyum denger pertanyaan gue.

"Im looking the right one!", jawab Ke' cengengesan sambil menstarter motornya dan lenyap dalam hitungan menit dari hadapan gue.

Dan gue masih aja bengong dengan ucapan terakhir Ke', "Im looking the right one"

Ada beberapa alasan kenapa Ke' atau orang lain merasa belum cukup dengan apa yang mereka temui.
....Alasan karena memang belum clik banget, yang kalau di jabarkan adalah :
- Merasa bisa dapet lebih dengan apa yang ada di dirinya.

"Im still 26, wajar doong kalau gue ngarep lebih dari si Oddie yang cuma staff call center?? Lagian gue juga punya kans lebih kan", ucap Kiki suatu ketika.

"Bukan mimpi dong kalau gue bisa dapetin fisik dan sifat yang baik dalam satu paket", Iko menimpali.

"Salah gue kalau gue nyari yang setidaknya sepadan dengan diri gue? bukan cuma kepedaan gue aja, tp its real...", imbuh Bee.

Sering gue mikir kalau ada sebuah kalimat yang menggantung dari pertanyaan mereka di atas. Yaitu penerimaan akan sebuah arti keberadaan akan sesorang di samping kita. Gue sendiri juga gak menampik untuk mendapatkan sesorang yang 'Ideal' di mata gue. Tapik balikk lagi, komunitas dan lingkup cong itu sangat minoritas. Ditambah dengan persaingan yang makin membludak pula, jadi apa unsur 'Ideal' benar-benar bisa di terapkan??
Ok, kalau ada yang mikir "Karena minoritas, kita harus cari yang benar-benar 'The One". Tapi kalau di telisik balik lagi, karena minoriotas itu pula, kita akan kehabisan stock kalau sekedar menggilir semua persediaan yang ada. Karena kita gak akan pernah tau sedetik kedepan segalanya akan seperti apa. Bisa baik, bisa pula buruk, semua tergantung bagaiaman hati kita menerima kehadiran seseorang.

Sama halnya dengan hari ini, gue ngeliat Bee di depan Notebooknya dengan wajah bengong bodohnya memandang sebuah profile di account FB-nya.

"Coba seandainya gue jadian sama Izar, ya? Sekarang dia sukses dan fabulous banget!", sesal Bee

"Izdar yang chubby dan kerja di toko retail itu? Yang anaknya baik itu kan??? " tanya gue yang di jawab anggukan kecil Bee.

"Dia punya toko sendiri sekarang. Dan liat deh, badannya jadi banget", Bee seperti nelangsa.

"Waktu gak bisa di beli, waktu cuma bisa dipelajari, Bee", bisik gue sambil mengelus pundak Bee.

"Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan. Is he the Right one? gue juga gak bisa jawab dengan keyakinan 100%. Tapi gue percaya, hati akan membawa kita pada sosok sempurna justru dengan segala kekurangannya", lanjut gue tersenyum ke arah Bee.

Tuesday, January 19, 2010

Curtain's finally closing

"M, temenin gue ke pameran photo yuk?"

"Boleh, photographernya siapa?"

"A-aliff"
Ke' terdiam setelah menjawab itu.

"Dan lo dah get over it kan?"
Ke' masih saja diem tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

"Gue paham kok kalau lo masih punya perasaan seperti itu, Ke"

"Yahh, gak tau, M. Bingung. Tapi lo mau kan temenin gue?"
Gue mengangguk sambil meluk Ke'.

***

Sampailah kita di pameran photography tersebut. Dan kali ini bukan hanya gue dan Ke'. Tapi dengan anak-anak mertilang lainnya.

"Ehhh tuh si Alif", tunjuk Ki ke ujung kanan ruangan ini.

"Samperin gih, tunjukin kalau Lo fine without him"
Ke' yang baru saja mau melangkhakan kakinya, tiba-tiba...

"Anjrit, itu kan si Bardy"

"Bardy who?", tanya Bee.

"Bardy itu yang deket sama dia, Bee", jawab Ke'.

"Deket? pacar?", tanya Iko polos.

"What so ever namanya. Intinya tuh laki sekarang jadi gundiknya", jelas gue berapi-api.

"Gundik?", Iko kembali bertanya.

" Alif kan dah punya bini, yah apa lagi sebutan si Brady selain gundik?"

"Ohhhhh...i see..isee...", akhirnya Iko mencapai pada satu pemahaman yang sama.

Dan mata kita gak lepas memperhatikan setiap gerak gerik Alif, istrinya dan Bardy. Dan dengan keisengan tingkat wahid, Bee mengeluarkan DIGICAM barunya. Dan cLik..clik..clikk...semua terekam dalam gambar.

"Guys, cabut yukkk", ajak Ke'.

"Yakin??? kan ada mantan tersayang yang sampai detik ini masih cinta?", gurau Ki cengegesan.

"Basi lohh. Cabut yuk!", Ke' sebel mendengar becandaan Ki.

***

Sesampainya di mertilang, Bee langsung meng up load hasil mata kameranya. Dan dengan semangkok pop corn kita menganalisa semuanya.

"So how do you fee, Ke'?", tanya Gue.

"Hmmmm, lu bener, M!"

"Dulu gue gak pernah nyadar soal ini. Gue kesian ngeliat bininya"

"Thats the point, Ke'. Dulu gue coba kasih pandangan ke elo soal ini. Sah-sah aja sih lo macarin suami orang. Tapi, pernahkah kita berfikir sedetik aja? Berfikir bahwa ada orang lain menunggu di cintai dengan gtulus, yaitu istrinya", jelas gue.

"Tapi kalau dia terpaksa gimana, M?", tanya Iko.

"Booo, gak ada istilah kata terpaksa. Ya dan Tidak. Apapun alasan itu, lo gak berhak menarik hak hidup orang lain untuk nutupin masalah lo. Lo gak mikir kalau istrinya itu tulus mencintainya, tp apa yang di dapet? Eh suaminya masih aja kecimpringan sana sini sama laki-laki", lanjut gue.

"Iya sih, kok gue ngebayangin si istrinya hanya sebagai pemanis sosial aja. Taplak meja yang bersulam emas untuk menutupi rusaknya sebuah meja", timpal Bee.

"Karena itu, apakah layak cewek yang dengan tulus dan setia di perlakukan seperti itu??!! Perempuan-prempuan itu lebih berhak mendapatkan lebih dari sekedar pajangan sosial doang", gue ngoceh sambil mulut gue terus mengunyah pop corn.

"Lo milih, lo terima konsekwensinya. Lo gak bisa berada di garis abu-abu. Lo gak berhak swing both ways...jangan gila doongg booo!!", Bee dengan nada sinisnya.

"Hmm lo liat di sini, jelas-jelas dia gak menghargai perempuan. Heyyy, nyokap kita perempuan kan? kita punya saudara perempuan juga, kan? how does it feel kl kalian tau suami atau ayah dari perempuan terdekat kita ternyata memiliki gundik laki juga?", Bee mulai makin meracau.

"Apapun alasaanya, kita gak berhak memperlakukan perempuan seperti itu, kan M", Iko menimpali.
Gue tersenyum.

"Dan gue percaya, kalian bisa menentukan pilihan juga. Ikut masuk atau justru berada di luar lingkaran tatanan tersebut", lanjut gue.

"Sama halnya kita memilih menjadi Gay berbudi luhur atau gay berbulu domba..hahahahahah", Bee tertawa.


***

Kembali gue melihat photo yang di ambil Bee tadi. Sebuah foto yang memampang istrinya Alif-Alif dan Bardy dalam satu frame. Di sana terlihat tangan kanan Alih memegang erat tangan istrinya, sedangkan tangan kanannya merangkul pinggang Bardy.

Pffhiuhhhh...kadang kita terperangkap dalam sebuah pertunjukan yang membuat kita memaksa harus sempurna. Meski harus mengorbankan orang lain untuk sekedar menutupi ketidak sempurnaan kita. Mejadikan mereka sebuah pajangan manis sebagai mantel sosial kita. Yang dengan menakjubkannya memberikan sebuah tontonan betapa hebatnya peran kita di tengah sosial. Tanpa mereka tahu...ada jiwa yang terisak setiap malamnya. Tanpa mereka tahu, perasaan itu tak akan cukup untuk sekedar di belah menjadi dua bagian sama persis.

Gue hanya tersenyum dan seketika meng-klik tanda silang di ujung kanan untuk menutup photo tersebut. Sayup-sayup gue mendengar lagu Take a bow-nya Rihana megalun sendu...

But you put on quite a show, Really had me going
But now it's time to go, Curtain's finally closing
That was quite a show, Very entertaining

Oh, And the award for The best liar goes to you (goes to you)
For making me believe (that you), That you could be faithful to me
Let's hear your speech, Oh....

Saturday, January 02, 2010

Rumahku

"If you knew how lonely my life has been
And how long I've felt so low
If you knew how I wanted someone to come along
And change my life the way you've done"

Home...sebuah kata yang gue, lo, kalian semua sering dengar.

"Rumah = sebuah tempat dimana kita terasa hangat, nyaman dan sesaat bisa melepaskan segala penat "

Mungkin buat sebagian orang, Rumah adalah tempat kita berkumpul dan bercengkrama. Tempat di mana kita bertemu dengan orang yang kita cintai dan sayangi. Tempat di mana kita sejenak melangkah mundur, menarik nafas panjang sebelum siap kembali berjalan. Runah itu bernama keluarga.

Bicara soal keluarga, buat saya itu bukan lagi sekumpulan orang tua dan keluarga saya berada. Keluarga saya menjamur di mana-mana. Saat saya ada bersama dia, saat saya ada berada dengan teman, sahabat saya. Dan saat saya ada saat saya merasa secure dari jamahan sejuta masalah hidup. Dan mereka adalah orang-orang yang bisa menerima keberadaan saya dengan segala bentuk kesalahan dan keganjilan diri.

Mereka ada di sebuah tempat bernama rumah. Rumahku adalah, di mana hati kita selalu terpaut di dalamnya. Tanpa kondisi apapun, tanpa syarat apapun....

"Feels like home, Feels like I'm all the way back where
I come from. Feels like I'm all the way back where I belong "

Wednesday, December 30, 2009

L-0-V-E

....mereka seolah melupakan segala jenis perbedaan dan keganjilan yang ada. Jika untuk mencintai saja teramat begitu sulit, kenapa kita begitu judmental sekali. Bukankah cinta itu untuk di rasakan, bukan untuk di hakimi. Dan kali ini gue bisa mikir jernih kalau ternyata semua orang itu butuh sesorang untuk berbagi. Terlepas dari masalah orientasi sexual, religi, adat dan culture mereka.


Dan apa yang gue liat, gue makin mengamini itu, bahwa...




"Cinta itu ada buat kami yang mengamininya. Buat kita yang mempercayainya. Dan buat mereka yang dengan setia menanti kehadirannya. Karena cinta tak akan pergi, ia akan hadir di saat kita masih bisa tersenyum walau kadang tersakiti olehnya”

Monday, October 19, 2009

Kata tentang cinta

Katanya cinta tidak perlu di kondisikan untuk sekedar menjejak.
Katanya lagi, cinta itu kadang tak perlu tali untuk mengikatnya.
Dan katanya lagi, cinta itu cukup di rasakan untuk sekedar di pahami.


Tapi, di mana empat huruf itu di kala aku tidak menjejak, tidak memiliki tali dan di punya nalar untuk memahami.

Monday, October 12, 2009

Detik terakhir

Hari ini masih sama dengan hari-hari kemarin. Aku masih suka dengan gemerintik air hujan, semburat jingga di kala senja. Aku juga masih suka mengadahkan kepalaku ke langit biru takala buliran tangis tumpah dari kelopak mataku.


Namun ada satu hal yang berbeda hari ini....aku tak bisa lagi menangis dan berteriak lantang agar dapat di dengar olehmu.
Karena hanya dengan pintalan do'a, rajutan harap serta sulaman asa yang akan tertiup angin senja menghantarkan tepat ke pintu langit.


Mungkin ini adalah terakhir aku berbisik kepadamu, mungkin ini adalah kali aku menyentuhmu. Lucunya, hingga detik terakhir kepergianmu, kau masih saja mengajarkanku begitu banyak hal.
Satu di antaranya bagaimana kamu mengajarkan aku tentang cinta, hidup dan merelakan.untuk mengerti bahwa cinta dan sayang tidak membutuhkan tali untuk mengekangnya. ..dan aku mengerti sekarang.


Masih lekang di ingatanku, ritual yang kerap kita lakukan di celah detik kesibukan dunia. Melihat temaram kemilau senja, menyisir kaki langit dan mengkahiri malam dengan sebisik kisah di beranda rumah. Masih ingatkah saat kau tunjuk satu benderang sinar bintang dengan nyala satu bintang di sebelahnya. "Sebagai pelindung-ku kemarin, kini dan nanti", ujarmu kala itu.

Kamu tahu, kupikir aku akan jauh lebih hancur melihat butiran tanah yang menutupmu kaku tubuhmu. Namun aku sadar bukan kesedihan yang kamu inginkan, tetapi ke ikhlasan untuk terus tersenyum. Karena kamu yakin, cinta tak akan pernah butuh tali untuk mengikatnya. Dan aku percaya itu.

Hujan mengguyur tanah yang ku pijak dan satu persatu orangpun pergi meninggalkan kita. Tanpa sadar aku menitikan butiran kesedihan bersamaan dengan rintik air yang menerpa wajahku.

Terimakasih untuk kedatanganmu yang hanya sepenggal jalan ini....




Untuk semua yang di tinggalkan....dia akan selalau ada di samping kita, dalan nafas yang berbeda.

(Sehabis membaca kisah lelaki yang di tinggalkan istrinya karena kecelakaan)

Tuesday, April 28, 2009

bara

Kata orang, kita gak akan pernah tahu dengan apa yang akan kita dapat, kita temui dan kita jalani kedepannya. Awalnya, gue nganggap itu semacam ucapan sok filsafat yang kesiangan aja. Akan tetapi, pada akhirnya gue memang harus mnyetujui hal itu. Bukan karena terpaksa menyetujui, tapi karena gue mengalami itu sendiri.

Dalam semesta, kita gak akan pernah tahu, bahkan sedetik kedepan pun semua masih berbalut misteri. Bahkan apa yang sebelumnya kita pikir itu berada di bawah kontrol diri, justru kita di perdaya oleh sesuatu yang tidak nyata. Dan keterikatan kita dengan semestalah yang akan menggiring kita menjumpai satu demi satu kejanggalan. Memilin menjadi sebuah fenomena baru, fenomena yang bahkan tidak pernah terlintas untuk terpikirkan. Seperti berpetualang dari satu galaksi ke galaksi lainya, menyerupai satu proyeksi hidup, suatu hologram nyata. Yang di dalamnya hakekat seperti bayangan yang menghubungkan batas ilusif dan realitas. Segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Sesuatu yang jauh di luar batas pemikiran diri, yang mengarahkan menuju satu pintu yang kuncinya entah ada di mana. Bukan keluarga, saudara, atau pacar gue sekalipun. Tapi justru mereka, yang menunjukan di mana letak kunci itu tergantung tanpa perlu di tanya, tanpa harus di sapa. Meraka bernama Bayu, Lintang dan Taruna. Tiga nama yang sebelumnya gak pernah terpikir kalau gue akan bersinggungan dengan mereka. Tiga nama yang mampu merubah apa yang gue mau menjadi sesuatu yang gue butuhin.

Oh ya, nama lengkap gue Swarna Bara Putra Perdana, nama yang cukup unik, tapi kalian cukup panggil gue dengan Bara. Orang tua gue mengharapkan gue seperti nyala kobaran api. Mandiri, punya semangat tinggi, keras dan berani. Harapan mereka pun nantinya agar gue bisa memberikan seketip nyala api itu kembali buat keluarga. Karena alasan itu pula, sejak lulus SMA gue memutuskan untuk keluar dari rumah, guna menemukan nyala api itu dengan sendirinya.

Dengan berbekal intelegensia yang cukup lumayan, gue mulai segala sesuatunya di luar kota. Kuliah pagi, kerja di salah satu retoran fast food selepas siang dan kemudian menjajakan suara di radio lokal malam harinya. Dan semua itu gue lakuin untuk menggapai satu impian, yang ironisnya sampai sekarangpun gue masih bimbang tentang makna mimpi itu sendiri. Yang gue tahu hanyalah kembali dan menaklukan belantara Jakarta.
Di rimba jakarta ini juga gue ketemu dia, Dimas. Orang yang hampir 5 tahun ini menemani tidur malam-malam gue. Dengan dia, gue mengiris sebahagian hati gue untuknya. Memotong serpihan hidup gue buatnya, total, tanpa terbagi.

***

Bippp..bipppp, suara ponsel membangunkan lelap tidur gue malam ini. Sebuah pesan singkat dari seorang teman, Mariana :
“Bar, gue ada gawean buat elo. Gak seberapa sih, tapi lo masih suka nulis kan? Kalo tertarik, Lo dateng ketemu bos gw di mertilang, Bintaro”

Gue hanya diam memandang tiap karakter kata di ponsel itu, tanpa pikiran apapun. Karena saat ini semua masalah nampak mendesak ingin di muntahkan sekaligus. Dan justru ini berujung pada sebuah keraguan diri. Sebuah keraguan akan harga eksistensi yang berbalik menjadi satu paradoks hidup gue kedepannya.

Jam di dinding menunjukan pukul 3 pagi, sekilas gue menatap Dimas, yang masih pulas tertidur di sebelahku. Ia nampak terkunci dalam mimpinya, setelah kami dengan buasnya merangkai tiap kata cinta dalam bentuk pagutan, intercourse dan berakhir dengan lenguhan panjang. Aku menatap dengan tatapan tanpa makna di dalamnya, tanpa dinamika.

“Phhiuuuhhhh”, aku hanya mampu menghela nafas panjang dan kemudian berjalan menuju bilik kamar mandi. Menyalakan kran air hangat dan membiarkan tiap buliran pancuran air membasuh tiap pori-pori di sekujur tubuh. Dan tak kentara, semua nampak seperti sebuah gerak lambat, yang membawa gue ke dimensi lain. Sebuah dimensi yang belum pernah gue jejak sebelumnya, meruntun setiap permasalahan yang menguntit dari balik kecemasan diri. Di sini gue yakin, semesta tengah coba mengurai helai demi helai lilitan yang berujung panjang itu. Sampai satu titik di mana tanpa sadar, mata gue sembab. Gue nangis…..namun justru di saat hati gue sedang tertawa terbahak-bahak. Tepat di saat gue coba menepiskan gelagat kesombongan diri.
“Gue nangis….untuk ke pertama kalinya sejak tahunan lalu”, dan gue gak tahu apa yang tengah gue tangisi….

***

“Mar, gue dah di depan nih. Lo keluar dong”, panggil gue melalui ponsel.
Tak selang berapa lama, sesosok perempuan yang gue kenal sejak 10 tahun yang lalu, menyelongok keluar dari pintu depan. Ahh, itu dia.
“Bar, gue dah bilang ke bos gue, Lo itu nantinya akan bantu dia sebagai asisten nya. Kerjaan Lo gampang, ngatur jadwal dia dan ngedit beberapa script “ celoteh Mariana sambil mengajaku masuk ke dalam.
“Oh yah, kebetulan semuanya lagi cuti lebaran, jadi agak sepi. Dan Lo gak balik kampung kan, Bar ?” lanjutnya memperhatikan mata gue yang sedang sibuk memfigurisasi sebuah kantor yang sepi ini.
“Sejak kapan gue punya kampung Mar, kampung dan rumah gue di mana-mana. Dan Lo tau itu” jawab gue.
Dan kemudian mengalirlah perbincangan ini itu yang berujung alasan kenapa gue resign.
“Basi gue sama patriot yang sok mengusung nama bangsa. Gak taunya tujuan mereka sama, menggerogoti nasib bangsa dengan berlindung pada jaringan keperintahan. Terlihat putih meski pekat di dalamnya” cerocos gue menerangkan alasan gue resign.
“Kenapa Lo gak ikutan juga, Bar. Lumayan buat masa depan Lo kan, ngumpulin pundi-pundi rekening Lo, hahahahahaha” timpalnya terbahak.
“Gue lebih salut sama orang yang melacur, Mar. Mereka sama-sama berdagang, tapi dengan cara lain, gak ngumpet dari balik elegansi keintelekan yang sengaja di buat-buat” seloroh gw berapi-api.
“Bara…baraa…Lo masih aja kayak dulu. Meledak-ledak, seperti muntahan lahar”
“You know me so well than…hehehehehe”

***

Satu individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari proyektor hidup yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat kecepatan proyektor hidup itu sendiri. Semua bernaung dalam satu ketukan makna. Kejadian…..

Akses internet yang seharusnya mampu menghubungkan

Wednesday, March 11, 2009

cinta prit

Prita, 27 tahun, single dan bekerja sebagia Personal wedding Organizer. Jauh sebelum ia berkecimpung dengan pekerjaan nya ini, ia sudah memimpikan kalau ia akan membuat sebuah konsep pernikahanya yang jauh dari orang kebanyakan. Akan tetapi, ironisnya satu persatu ide dan konsep menggelar pernikahanya itu, justru ia kembangkan ke semua pasangan yang membutuhkan jasanya. Hingga suatu ketika ia berharap ia akan memiliki konsep itu untuk dirinya sendiri, setelah 100 pernikahan yang sudah ia tangani.
Namun semua itu hanya angan belaka, karena meskipun tinggal 1 pernikahan menuju yang ke 100 pun, ia tetap saja belum menemukan calon yang bisa ia ajak untuk menikah.
Hingga suatu ketika....
Kring....kring...kring...
"Selamat pagi, dengan Prita Dharmawan"
"Mbak, saya butuh Wedding advisor dan Orginizer "
Ini lah 100 pernikahan yang siap ia kerjakan.
***
Namanya Dimas, seorang lelaki berusia 30 tahun, tmenarik, tampan dan lebih anehnya ia datang bukan atas nama dirinya akan tetapi atas nama Kakak nya, Dany.Ia datang untuk meminta bantuan Prita sebagai wedding organizer pesta pernikahan kakaknya yang sekarang ini sedang menyelesaikan master di Amerika.
Pertemuan mereka yang di awali ke anehan itu ternyata membawa simpati kepada Prita, bagaimana tidak, ada seorang adik yang rela di repotkan oleh pernikahan kakaknya, dan memang Dimas sangat mencintai kakak nya itu. Mungkin karena sejak kecil selepas ayah mereka tiada, Dany yang selalu mengurus dirinya dsan ibunya.
Setelah beberapa kali kali pertemuan, ternyata diam-diam Prita tertarik dengan Dhimas. Dimas dengan tatapan teduhnya, dan suara baritone nya yang sangat khas itu terdengar begitu menyenangkan. Ia begitu terkesima setiap kali sehabis tertawa karena ocehan atau lawakanya, pasti Dimas akan segera terbatuk-batuk. Dan entah mengapa, Prita begitu mudah untuk menyukai Dimas, sangat sederhana untuk bisa menyukainya. Namun angan itu ia tepis dengan segera, karena ia berfikir apakah ini hanya sekedar angan yang kelamamaan menanti datangnya seseorang yang akan merengkuh impinya saja. Di samping itu, ia pun harus bersikap professional. Akan tetapi setiap pertemuan mendatangkan suasana baru buat Prita, ada hal yang makin ingin ia tahu dari sesosok Dimas.
***
Suatu ketika ketika ia ada janji untuk kembali bertemu dengan Dimas, dan lama ia menunggu di suatu café, hingga tak terasa malam beranjak tiba. Namun Dimas tak kunjung datang. Jauh di lubuk hati Prita, ia sangat menantikan tiap pertemuan dengan Dimas, sama halnya dengan kali ini, Prita berdandan secantik mungkin.
Sampai akhirnya ketika ia memutuskan untuk tidak lagi menunggu Dimas lebih lama, tiba-tiba Dimas datang dengan keadaan mabuk.Di sana ia mendengar ocehan Dimas yang ternyata dia mencintai calon kakak iparnya itu. Prita Shock bukan main. Namun dalam kegamngan nya itu, Prita tetap mampu mendegrakan setiap celoteh yang keluar dari mulut yang berbau alkhol itu. Ia mendengar bagaimana Dimas di minta oleh ibunya untuk menjaga Lana, kekasih kakaknya yang mengambil kuliah di universitas yang sama dengan nya di Australia. Awalnya tidak ada ketertarikan antara mereka, namun kedekatan mereka lambat laun menimbulkan rasa saling membutuhkan, memiliki dan mencintai satu sama lainya. Dimas pun berkata sejujurnya ia tak mau terlibat dalam hal ini, ia teringat akan kakaknya, dan tugas dia hanyalah menemani dan melindungi, bukan mencintai dan mengambil apa yang bukan ia miliki.
Kata-kata itu juga yang terngiang di dalam pikiran Prita, “tugas dia hanyalah menemani dan melindungi, bukan mencintai dan mengambil apa yang bukan ia miliki”.
***
Prita terdiam di ruang kerjanya, pikiranya tak tak fokus, diam diam dalam kegamangnya, ia menuliskan sesuatu di dalam secarik kertas, sebuah puisi bait “Untuk seratus kali pesta ia menebar bahagia, namun bukan buat dirinya. Untuk 100 ucapan selamat ia menuai doa, tapi bukan untuk dirinya, dan untuk 100 mimpi ia menggelar dengan khidmat, tapi bukan untuk dirinya…karena ia hanya butuh satu, satu yang kini pun jauh dari genggamanya…..”.
Tiba-tiba Dimas datang, dengan gerakan secepat kilat ia meremas kertas yang ia coret coret itu. Dimas tersenyum tulus, ahh senyum yang begitu menggoda pikir Prita. Dimas bercerita kalau ia semalam tak tahu di mana dan apa saja yang ia lakukan, yang hanya ia ingat adalah ia datang menemui Prita. Untuk itu ia meminta maaf, atas kejadian semalam yang membuat Prita menunggu.
***
Malam ini, sehabis melakukan kegiatan hal persiapan pernikahan kelar, Dimas mengajak Prita untuk menemaninya makan malam. Di sana kembali Dimas berkelakar tentang kelucuan dan tingkah polah Dany. Cara bertuturnya begitu menarik, begitu bersemangat seperti halnya nyala kembang api. Akan tetapi ada saat di mana ia nampak menyeruput Papermint Tea nya terlebih dahulu ketika ia harus menceritakan kisah percintaan Lana, calon kakak iparnya dengan Dany, seolah ia mencoba mengumpulkan sebuah keberanian di sana.
“Kamu sama seperti Lana, selalu siap memberi telinga untuk mendengar saya. Karena memang hanya itu yang saya butuhkan”, dan ucapanya itu mampu membuat rona wajah Prita memerah.
“Saya terbiasa untuk selalu mendengar, karena hanya itu yang bisa saya perbuat. Dahulu ketika saya banyak meminta, malah itu justru membuat saya tak nyaman. Sama seperti kamu, saya butuh untuk mendengar” jawab Prita halus sambil memandang lekat ke arah Dany yang sibuk membenamkan dirinya pada secangkir Papermint Tea nya.
***
Hari pernikahan semakin dekat, suatu ketika Dimas menelpon Prita untuk mengambil cicncin kawin pesanan Dany, nampak Dimas begitu tak bersemangat. Justru Dimas mengajak Prita ke suatu tempat.Di sana Dimas menceritakan sebuah cerita yang Prita pernah dengar ketika Dimas mabuk. Di sana mereka hanya duduk terdiam. Tapi mata mereka seolah menguntai mantra.
“Bimbang menyelimuti takdirku, apa ini yang harus aku raih, atau aku kubur selamanya"
"Biarkan busur itu melepas ringan, karena ia tahu kemana harus tertancapkan"
"Aku bimbang....karena tak memiliki keberanian untuk memilih"
"Aku ragu...karena bintang itu teramat benderang untuk ku raih"

“Jika memang kamu mencintainya, kejar, dan raihlah dia. Mungkin di ujung sana ia juga tengah menanti kamu untuk melakukan hal seperti itu”, suara Prita pun terlontar perlahan dari mulutnya, begitu mencekat urat nadi tenggorokanya.
Dimas menatap lekat ke arah Prita, seolah menyetujui apa yang baru saja di bicarakan Prita.
“Tapi, dia itu calon istri kakak aku Prita?”.
Prita hanya mengangguk pelan.
”Tak ada yang salah dengan Cinta, apapun nanti kejadianya, ungkapakn apa yang ingin kamu ungkapkan. Cinta ingin di dengar, masalah kamu memiliki dan di miliki adalah cerita lain dari sebuah cinta. Cinta butuh kejujuran”.
Dimas terdiam, seolah ia mendengar suara prita begitu indah, seolah ia melihat Prita bukan seperti Prita yang ia temui kemarin-kemarin. Kali ini Prita benar-benar nyata untuk mendengar dan di lihat.
“Pergilah, sebelum semuanya belum serumit seperti sekarang. Dimas pun pergi, dan prita hanya melihat Dimas semakin menjauh dan menjauh dari penglihatanya hingga hilang sama sekali dari hadapanya.
Tak sadar air mata Prita menetes perlahan. Mimpi dan doa nya tak akan pernah terjadi, ia memberikan solusi nyata mengenai cinta. Ia berani beraninya berkata cinta itu butuh kejujuran, padahal dirinya sendiri sama halnya dengan pengecut lainya, yang hanya mampu memendam rasa cinta tanpa bisa jujur.
***
Dalam ruang kerja nya, prita berusaha melupakan apa yang belakangan ini telah terjadi dengan dirinya. Ia menyibukan diri dengan setumpuk pekerjaanya. Ia hanya berfikir, mungkin kali ini Dimas tengah mengejar mimpi dan cintanya bersama Lana.
***
Kereta ini akan segera membawa dirinya berjarak ribuan kilo meter dari temptanya berdiri sekarang. Meninggalkan untuk sejenak apa yang memang harus tertinggal. Tiba tiba seorang anak kecil memberikan secarik amplop kepada Prita, tanpa nama tanpa apa-apa. Ia kebingungan mendapati itu dan anak kecil itu berlari menjauh sebelum sempat ia tanya siapa yang memberikan amplop itu.
Prita membuka amplop tersebut dan isinya adalah secarik kertas lusuh yang dulu pernah ia coret...
“Untuk seratus kali pesta ia menebar bahagia, namun bukan buat dirinya. Untuk 100 ucapan selamat ia menuai doa, tapi bukan untuk dirinya, dan untuk 100 mimpi ia menggelar dengan khidmat, tapi bukan untuk dirinya…karena ia hanya butuh satu, satu yang kini pun jauh dari genggamanya…..”.
Dan di bagian akhir dari surat itu, ada satu kalimat tambahan yang jelas bukan tulisan tanganya.
“Satu orang itu berterima kasih untuk sebuah pelajaran cinta. Kadang Cinta juga ingin di dengar walau ia tak terucap. Aku sudah jujur terhadap cintaku, namun kejujuran tidak selalu harus saling memiliki, karena ada jiwa lain yang tengah menanti sebuah cinta yang terlantun untuk di miliki. Dan satu orang itu...aku” –Dimas-.
Selesai membaca surat itu, Prita di kagetkan oleh suara batuk yang memang ia ingin sekali dengar saat ini, dan begitu ia menoleh ke arah belakang, Dimas telah ada di hadapanya, begitu nyata.

Tuesday, February 24, 2009

melepasmu

Langit makin menghitam, seolah butiran air langit siap menumpahkan sedu sedan nya
“Tolong, jangan menangis lagi. Aku juga sama seperti kamu…Terluka”
Dan ia masih saja menitikan air mata, meski tak bersuara sedikitpun.
“Ku mohon...diam sejenak!”Pintanya lirih
Dalam linang air matanya, ia menyulut sebatang rokok ke mulutnya. Menghisap sedalam dalamnya dan mengepulkan asap itu keluar, lepas bersama beban yang sedari tadi terpendam.
“Mungkin ini yang di namakan takdir..”, akhirnya suara itu muncul di antara kering air matanya.
“Takdir yang membawa kita bertemu, dan akhirnya takdir itu pula yang membawa kita untuk seolah tidak pernah bertemu lagi”, lanjutnya lirih sambil mengelurakan kepulan asap nikotin dari paru parunya.
“Ini karena memang sudah saatnya, bukan takdir yang memilih kita, tapi kita, aku yang memilih untuk masuk kedalam perangkap semu hidup dan mengkaitkan dengan menyebut takdir”aku pun kembali bersuara
Dan kembali terdiam, hening. Bahkan detak jantung pun seolah terdengar berdegup berlari bersama sang waktu yang telah merampas ganas sebuah rasa yang biasa ia sebut kenangan.
Matanya menatap ke arahku, tapi itu bukan sebuah tatapan benci atau hina. Tatapan kosong…
Deru ini terasa menyesak, mengambil separuh nafasku…..
Kiranya malaikat sedang asyik mengasah pisau hidupnya untuk segera di tancapkan tepat ke ulu hati ini.
***
“Mengapa…?”
“Aku tak tahu”
“Kenapa kamu harus pergi dengan cara ini?”
“Karena ini adalah salah satunya cara untuk bisa pergi”
“Denagn mencoba untuk menyakiti aku?”
“Bukan untuk menyakiti, namun untuk mencari alasan”
“Iya, Alasan untuk berpaling dari aku kan???” suaranya agak sedikit meninggi.
Aku diam….
“Alasan untuk tidak menyakitimu lebih jauh lagi”, ujarku.
“Aku tahu sejak awal….hanya saja aku tahan, kupikir kamu akan berfikir ulang untuk itu”
“Kenapa kamu tidak menahan sejak dulu?”
“Ku pikir kamu bisa merasakan sinyal itu”
“Bahwa kamu tidak ingin aku pergi???”
“Bukan….”
“Bukan??”
“Kupikir aku bisa memahami sedikit tentang kamu”
“memahami ?”
“Memahami bahwa memang selayaknya kamu mendapatkan kebahagian yang lebih dari aku”
Tersentak aku berfikir ulang, merajut kembali sisa kenangan bersamanya. Aku terkejut dengan pernyataanya.
“Tapi aku tak sanggup…..untuk bisa berjalan seoarang diri”
Ku tatap wajahnya. Ia menunduk, dadanya berguncang menahan tangis.
“Aku tahu ini tak akan mudah untuk aku, untuk kamu..untuk kita” lanjutnya terisak.
Ku langkahkan kakiku, selangkah lebih dekat denganya.
“Tolong….tetap berada di sana”, pintanya seolah tahu aku ingin mencoba mendekap dirinya.
***
Hujanpun akhirnya meretas di gelap malam ini. Ia seolah berbahasa, seolah iangitpun tengah menangis terisak.
Dan aku masih satu langkah tepat di hadapnya, tak bergeming.
“Mungkin ia memang layak untuk mu…maafkan aku”
“Untuk apa?”
“Untuk membuat semua ini tak seperti yang kamu impikan”
Kembali aku tersentak….
“Dan inikah yang biasa di sebut sebagai pencuri waktu…
seperti berjumpa namun tak ada bedanya dengan berpisah…”


Dan kini bukan aku yang melangkahkan kakinya, mendekat ke arahku, dan berdiri hanya beberapa milimeter saja dari hadapanku.
Wajahnya dan wajahku saling bertatapan. Ada sejumlah kelu di ujung bola matanya, tertutup kabut kelam, tanpa setitik cahayapun.
Kudapati sebuah tatapan yang sama, seperti dahulu aku pernah dapatkan…
Sebuah perasaan tak tertebak, menyentak dan mengejutkan.
Sebuah perasaan yang mengingatkan aku saat pertama kali kita bercinta dengannya.
Dengan lembut ia merangkul tubuhku. Erat….hingga nafsanya pun terdengar menderu di telingaku. Namun kali ini bukan deru nafas amarah atau kebencian….nafasnya sangat teratur, berdinamika seperti sebuah nyanyian cinta.
Nafas yang seolah bercerita….
Apa yang kupikir sulit untuk di lepas, kini seolah mengalun damai….
Menyublim di tiap pembuluh darah
Menguap di setiap pori pori kulit…..begitu ringan


Dan perlahan, ku sapa erat dekapanya…
Lepaskan….tanpa harus terdorong,
Membuka tanpa harus di rusak….
Menjauh tanpa harus terpisah…

Peluk ini terasa begitu damai….begitu nikmat…dan indah.
Seolah ini bukanlah peluk perpisahan, melainkan peluk selamat datang.
Jika jiwa adalah melodi, maka cinta adalah raganya…

Pergilah bersama dengan mimpimu wahai bintang utaraku…..
Saat kau lepaskan aku dengan segenap keikhlasan jiwa, itu adalah wujud cinta mu yang tak terperi



Ya, meski berat, aku akan kembali berjalan di setapak kecil langkahku…tanpa harus ada kamu.
Tanpa harus ada aku..kita…karena kamu sudah teramat istimewa tanpa harus ada aku

Aku sangat mencintaimu….
Aku mencintaimu lebih dari yang kamu bayangkan….




Hyde Park,
Summer, 210806

Tuesday, October 28, 2008

Hidup katanya seperti roller coster, up and down!!
Yang pasti ketika kita berada di bagian Down, sgala makin kreatif, semua nampak b egitu berat.

Ini perjuangan, katanya!
ketika kita berada di dasar kehancuran, kita hanya bergumam 'Mungkinkan kita mampu merambat secara pasti untuk kembali ke jajaran atas.


Katanya lagi, kita jauh lebih bersahaja!
Apa ini penghiburan hati agar segala mimpi tidak meruak melewati batas sadar??!!


Dan terakihr katanya, mimpi itu musti di jaga, itu yang membedakan kita hidup atau berpura-pura mati padahal jiwa kita sedang mengembara entah kemana!
Mau mimpi pun ngeri, karena takut jatuh.


Reborn...menjadi kupu2 yang nantinya memeiliki efek luar biasa magis dalam tiap kepakannya. Sekarang mungkin di bawah, terlindas deru me3sin hidup. Tapi sebenarnya adalah kita tengah menjadi kepompong, yang sedang mempersiapkan diri untuk menyembuhkan tiap helai sayap yang patah. Berpasrah diri sambil menyusun kekuatan untuk kmbali dapat terbang mendekati sang kilau mentari....bahwa kita tengah mempersiapkan diri untuk bisa terlahir kembali, dengan wujud yang jauh lebih sempurna!!







Gut nait evribady, jagalah terus mimpi-2 itu!!
dini hari di bintaro sektor 9, lelah tp gak bisa tidur!!

Mungkin ini kebimbangan...
Mungkin ini hanyalah persona diri!!

Mungkin ini kegalauan jiwa...
Mungkin ini hanyalah, asa yang tak teraih!

Mungkin ini hanyalah kehampaan...
Tapi, bukankah segala sesuai berasawal dari tiada, dari kekesongan??!!!






Bingung Bung..Bintaro 28 okt 08 dini hari

Thursday, May 22, 2008

Pemimpi kecil

Aku hanyalah sang pemimpi kecil...
yang mencoba bertahan di atas terjal kayu jalan

Aku hanyalah pemandu rasa..
yang mencoba berlari dari raungan takdir yang kian menggila.

aku hanyalah penyair hidup
yang mencoba menyanyikan tiap gulungan asa

dan aku hanyalah pemabuk cinta
yang hanya mencoba mereguk tiap tetes cawan kebahagiaan




late of evening, slipi may 08

Bercinta dengan diri sendiri

Rintik itu berhenti meretas
Lembut gulungan kabut menjauh ber-iringan...ringan tak terlihat.
Yang ada hanyalah cermin diri di sudut senja.
Meremang sejuta kilau rama rama, meregukl sendu sedan rasa.

hmmm....inikah rasanya bercinta dengan diri sendir?

Diam..

Angin bergerak luruh
Menggulung rengkuh menuju malam, terhenti di sana.

Diam, tak berenjana.





"aku pulang", bisiknya lirih.


a couples of day before gajian may'08

Monday, April 07, 2008

To find a beautiful things, just listen to your heart.

Seorang teman bercerita, bahwa dia baru saja broke up dengan partnernya.
"I feel free Rud" teriaknya di telepon.
"Welcome to the club dude?" ujarku.
"For now...i just feel free..and its good to be back single ..again!"

Selang beberapa minggu, ponsel saya berdering, dan mendapati nomor teman saya yang baru saja merayakan ke-single-anya tersebut terlihat di layar ponsel.
"I feel tired Rud"
"And....??"tanya saya.
"Pffiuuuhhhh....i thought that after i've got this single certificate, i will feel free. Do anything i want. Hang out, flirting, and so much fun that i never did before when i was caught up in relationship"
"But....i just feel empty. My habit out of track RUd...very very wild" lanjutnya sambil menghela nafas panjang.
"Well....is it something you looking for, right? and if i didt get wrong, you are very exciting about your freedom"
"I know that, but.....i just felt empty"
"You know what??. Apa yang kita bayangkan, apa yang kita pikir sebelumnya bakal great...kadang tidak seperti yang kita rasakan. I've been there, dan eforia akan itu melebihi batas kendali kita, hingga pada akhirnya kita tersesat ke dalam sebuah ruang yang bernama 'sepi' "
"Kadang kita merasa untuk melakukan apa yang kita fikir benar untuk membunuh waktu dgn senang-senang, cheating, doing wild things, tapi sebenarnya bukan itu yang ingin kita lakukan. Semua itu hanya pantulan diri kita akan amarah, di sakiti, di kecewakan. Dan luapan itu kita munculkan dengan melakukan hal hal yang kita pikir akan mengahbisi sejuta rasa sesak dan amarah kita" lanjutku panjang lebar.
"Behenti sejanak...tarik nafas dalam dalam, dan biarkan semua tenang. Kamu butuh waktu sendiri, jgn takut untuk merasa sepi. Kamu harus melalui itu semua untuk mengerti apa yang kamu inginkan dengan mendengar kata hati yang terdalam.Dan kamu akan sebisa mungkin memafkan waktu yang telah berlalu, membiarkan dia terbang bersama angin kekecewaan kamu. Dan kamu juga harus bisa terus melangkah dengan paradigma baru, bahwa segala yang kita lalui memang harus kita hadapi, sakit atau senang, kamu sedang berproses untuk menjadi seseorang yang lebih baik"
"Terus rud...aku harus apa??" tanyanya masih sedikit kebingungan.
"Kamu tidak harus melakukan apa-apa. Kamu hanya butuh waktu untuk diam sejenak, berhenti melangkah untuk mengistirahatkan letih kakimu. Mengatur nafas dan melepaskan-nya lagi dengan hati yang bening. Dan kamu akan mendegar secara samar-samar, apa yang kamu inginkan"
"JUjur...i dont know what i want right now Rud..."
"I know...ini saatnya kamu harus berhenti sejanak. LUpakan ke-ria-an yang memanggil-manggil kamu dengan mengatasnaman kemerdekaan. Pulanglah, matikan lampu kamar, dekatkan diri dengan SANG MAHA ROMANTIS di atas sana, dan dengarkan denting hati kamu".
"You know what...its nice to have you as my friend"
"No-lah....you have the best thing indeed, you just dont realize it. You have so much beautiful colors inside your heart. Malah saya yang berterima kasih dengan kamu menjadi teman saya'
"Ok, rud. Aku mo ambil wudhu dulu trus sholat".
"Thats good...one more thing...to find a beautiful things, just listen to your heart."
and..click, dan telpon itu tertutup. Dan saya melihat ke arah luar memandang langit malam. Dan tiba tiba sebuah kilatan kecil dari salah satu rasi bintang, mengedip penuh canda, dan saya kembali tersenyum, Sang Maha KOmedian kiat sedang bercanda dengan saya malam ini.





Slipi, 7 april 2008 setelah berbincang dengan teman teman seputar bayam dan rerumputan.

Sunday, April 06, 2008

One huge giant leap...might call 'Ikhlas'

Sudah lama saya tidak bercerita dengan hati melalui media ini, karena kesibukan untuk mencari sesuatu yang terasa kurang..kurang..dan kurang. Sampai pada satu titik dimana saya harus melepas semua mimpi yang pernah terjalin erat. Suatu titik di mana raga sudah tidak bisa berkompromi untuk menderu lebih lama. Ada sekelumit kekecewaan yang membuat langkah terhenti, atau bahkan mundur beberapa yard dari yang di harapkan.

Hingga akhirnya saya berada di sebuah titik birfukasi, di mana mengingatkan kembali bahwa hidup adalah sebuah pilihan.

Apa yang sudah terajut, bahkan seolah setapak mimpi terasa terjalani hingga menit terakhir, kini baru terasa,bahwa semua begitu menyesakkan. dan itu kembali membuat saya seolah terlempar beribu ribu mill dari tempat saya berdiri sekarang.

'Ikhlas Rud....." one of my closest friend said like that.
'It's not a punishment from HIM, but its a gift. Ubahlah cara pandang lo, bahwa apa yang di titipkan di badan loe itu adalah sebuah hadiah terbaik yang dia beri...bahwa DIA sayang sama elo"

Dan merubah paradigma seperi itu sangatlah sulit...menyatukan akal pikiran, hati dan nafsu. Hingga pada suatu hari, di mana sejumlah ketakutan terpusat menjadi galaksi hidup, menarik kita rapat ke dalamnya, dan hanya satu desahan kecil meluncur ringan, 'Apa yang KAU inginkan, biarkan ini menjadi yang terbaik buatku', dan hanya mampu biarkan beberapa orang dengan seragam sterilisasi yang seolah seperti neil armstrong tersebut melakukan sayatan sayatan pada tiap ujung nadi saya guna membuat celah keajaiban untuk memperpanjang nafas.

Dan segalanya berjalan begitu ringan...seperti sehelai bulu angsa yang tertiup oleh kering angin musim hujan. Lepas, seperti saat pertama kali kita bisa berlari untuk pertama kalinya.

Untuk semua apa yang sudah terjalin, sulaman itu mungkin akan terkait tidak secepat, bahakan tidak seindah apa yang pernah di impikan. Tapi setidaknya, sebuah proses perjalanan diri telah membuka cakrawala tersendiri....ikhlas dengan segala yang telah terjadi, dan memilih bagaimana kita me-mantrai hidup dengan bisikan indah atau umpatan murka.

Satu langkah terbesar yang sulit untuk di mengerti....ikhlas atas segala ketentuan-NYA.
Dan satu hal yang pasti adalah...iam not alone yah..kamu selalu ada buat saya Tuhan.




Selamat pagi Dok budi...besok lusa Insyallah, saya akan datang untuk radiotherphy lagi.

Wednesday, December 26, 2007

Atas Nama Cinta

Mereka yang tidak menyukainya, menyebutnya tanggung jawab
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah halangan
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian
Mereka yang mencintai, menyebutnya itu “ takdir”

Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik,akan memberi ujian untuk menguji kita
Kadang Ia pun menyentil dengan caraNYA yang tak mudah kita pahami, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, dan Ia telah siap memberi yang lebih baik

Mengapa menunggu...?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, Ia menginginkan agar kita tidak tergesa-gesa
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,
Ia tak ingin kita jati diri kita dalam proses pencarian.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya...
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan,
ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,
Karena hidup ini terlampau singkat untuk
dilewatkan bersama pilihan yang tidak tepat,
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal, iman, keberanian dan pengharapan Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya...
Tuhan dalam segala hikmat-Nya,
meminta kita menunggu, karena alasanNYA yang penting





Dalam deru akan pupusnya "sesuatu" di hati yang ku sebut 'cinta'
1 minggu sebelum bergantinya tahun 2007..

Wednesday, December 19, 2007

Menutup satu babak

End of this book.....

Meski buram, perih, namun ada setitik nyala api di penghujung sana.

Melangkah tertatih, menyusuri gilas deru jalan dan menyeberang tebal kabut pagi...

UNtuk esok yang lebih baik...

Monday, October 29, 2007

ketika cinta menjadi begitu teramat salah...

Di ujung sana senja menapuk dengan penuh sedih..menanti dirinya untuk menyanyikan tiap kepingan daun saga.
Ruang tak berbatas menyentil untuk turun dari perasingan.
"Aku tak sanggup untuk turun....biarkan aku berpaling untuk melihat pemberhentian selanjutnya"
Dan kereta pun beranjak pergi...menggilas roda roda ketakutanku...

Entah sampai kapan......karena saat ini mencintaimu menjadi teramat begitu salah....



Cilandak, 271007

Cinta dalam sepotong kue cokelat..

Cinta itu seperti sepotong kue cokelat...
Nikmat untuk di gigit pada tiap lapisanya,karena tiap adonan terangkai dengan sangat pas..tidak berlebih dan tidak terkurangi...

Namun apakah akan tetap terasa senikmat itu ketika satu dari rangkaian gigi mendapati sedang meradang??? akankah tiap lapisanya masih tetap terasa nikmat melumuri tiap dinding mulut???

Mungkin akan ada banyak yang dengan sigap melepeh tiap remahanya...atau justru dengan damai mampu menteralisir dengan secangkir teh tepat bersama masuknya tiap suap potongan kue cokelat ke dalam rongga pengecap rasa?? Mungkin ia hanya berfikir, bahwa tidak ada pengalaman terdindah untuk menikmati sepotong kue coklet selain melahap habis tiap lapisanya.

Karena kue coklat itu akan tetap ada, dengan atau tanpa kita harus menikmatinya...sama seperti cinta..ia akan tetap selalu ada meski kita terlalu takut untuk menhampirinya atau kita dengan kerelaan penuh melahap habis tiap bagianya..



Slipi, mentasbihkan pagi yang indah.291007

Baca tulisan cinta berikutnya :



Widget by Hoctro
ditambahkan oleh koeaing!

Sapa Cinta


View My Stats

Gulungan film Favorit Rudy

Sabar lagi loading...
Sabar lagi loading...

Tak temukan cinta disini ? Kenapa tidak mencoba mesin cinta yang ini :

Google